Olimpiade Matematika di Bojonegoro Berujung Chaos, Ribuan Siswa Berdesakan, Regulasi Dipertanyakan.?

Opini Edukasi.


Bojonegoro
, Polemikdaerah.online, — Gelaran “Olimpiade Matematika Tingkat SD/MI Se-Kabupaten Bojonegoro Tahun 2025” yang diselenggarakan oleh pihak swasta bernama SR Management, Sabtu (//2025), menuai sorotan tajam dari publik. Kegiatan yang seharusnya menjadi ruang prestasi dan kebanggaan anak-anak sekolah dasar itu justru berubah menjadi kerumunan tak terkelola dan kekacauan massal.

Surat pemberitahuan kegiatan yang beredar luas di kalangan wali murid sejak awal Januari bahkan diketahui muncul lebih dulu daripada informasi resmi ke Dinas Pendidikan. Kondisi ini memicu dugaan bahwa penyelenggara menggelar event skala kabupaten tanpa koordinasi formal dan tanpa payung regulasi yang jelas.

Pantauan di lokasi, ribuan peserta yang hadir memenuhi area Gedung Serbaguna Ledok Wetan. Orang tua dan siswa tumpah ruah tanpa sistem antrean, tanpa petunjuk teknis pelaksanaan, dan tanpa pengamanan memadai.

Beberapa orang tua terlihat panik karena anaknya terpisah dari rombongan dan hilang di tengah kerumunan. Tangisan anak-anak terdengar di beberapa titik saat mereka tidak menemukan ruang kelas maupun panitia yang bisa memberikan instruksi.


Di luar gedung, kondisi tak kalah semrawut. Jalan raya depan lokasi acara mengalami kemacetan panjang dan warga sekitar mengeluhkan situasi yang membuat aktivitas mereka terganggu.

Di undangan resmi, penyelenggara mencantumkan jadwal pelaksanaan yang tertata rapi, fasilitas lengkap, hingga hadiah bernilai besar seperti laptop, uang tunai jutaan rupiah, trofi, sertifikat, hingga doorprize.

Peserta diminta hadir 30 menit lebih awal. Namun saat tiba, tidak ada sistem registrasi jelas. Tidak ada ruang transit peserta, tidak ada pembagian sesi teratur, dan panitia terlihat kewalahan sejak menit pertama kegiatan dimulai.

Seorang wali murid berkomentar :

"Kami datang tepat waktu, tapi semuanya kacau. Anak saya sampai menangis karena tidak tahu harus masuk ke mana.”

Meski menggunakan istilah “Olimpiade Kabupaten”, kegiatan ini berbayar, dengan biaya pendaftaran ulang Rp55.000 per peserta. Pembayaran dilakukan melalui transfer ke rekening pribadi, bukan lembaga resmi atau institusi pendidikan.

Hal ini memicu pertanyaan serius publik :

Apakah kegiatan ini murni pembinaan prestasi atau justru komersialisasi pendidikan berkedok kompetisi akademik?

Hingga saat ini, belum ditemukan informasi mengenai:

  • lembaga mitra penyelenggara,
  • standar kurikulum soal,
  • validasi materi kompetisi,
  • sertifikasi perlombaan,
  • maupun mekanisme penjaminan mutu.

Koordinasi dengan Pemerintah dipertanyakan, pihak publik kini mempertanyakan sejumlah hal mendasar:

  • Apakah kegiatan ini memiliki izin resmi dari Dinas Pendidikan?
  • Siapa yang memberikan izin penggunaan fasilitas publik untuk kegiatan berbayar.
  • Apakah panitia mengantongi izin keramaian dan tanggung jawab hukum jika terjadi insiden terhadap peserta?
  • Apakah sah secara aturan menggunakan istilah “Olimpiade Tingkat Kabupaten” untuk kegiatan privat?

Tanpa regulasi dan pengawasan, kegiatan pendidikan seperti ini berpotensi menjadi praktik trial and error yang mempertaruhkan keselamatan, kenyamanan, serta psikologis anak-anak.

Peristiwa ini kini bukan hanya soal teknis penyelenggaraan, tetapi soal tanggung jawab moral dan legal dalam dunia pendidikan.

Masyarakat Bojonegoro kini menanti klarifikasi dan langkah tegas dari pihak yang seharusnya hadir sejak awal, Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro dan otoritas terkait.

Hingga informasi ini dikabarkan, pihak pengelola kegiatan dan Dinas Pendidikan belum terkonfirmasi. 

Red... 


Sebelumnya

item