Ketika Nada Menangis, Hati Bergerak, Bojonegoro Mengulurkan Cinta untuk Aceh dan Sumatra
Bojonegoro, — Di tengah denyut kota yang biasa saja, Sabtu malam 6 Desember 2025 menjadi berbeda. Langit Bojonegoro tampak tenang, tetapi hati masyarakatnya bergelombang, bukan oleh kesedihan yang dialami mereka sendiri, melainkan oleh empati terhadap saudara sebangsa di Aceh dan Sumatra yang sedang dilanda banjir besar.
Di bawah naungan tenda putih di Jl. MH. Tamrin, lampu-lampu temaram memantulkan sorot kepedulian. Di situlah Komunitas Dangdut Bojonegoro (KDB) menyatukan langkah dan suara. Mereka tidak hadir dengan kostum glamor atau tata cahaya megah. Mereka datang dengan gitar sederhana, kendang penuh getaran rasa, dan hati yang telah lebih dulu tergetar oleh kabar duka dari tanah seberang.
Dari panggung kecil ini, musik tidak sekadar mengalun—ia berbicara. Setiap bait dangdut seolah menjadi doa yang terbang bersama angin malam.
“Musik itu bukan hanya hiburan,” ujar salah satu musisi sambil mengepalkan tangan di dada. “Malam ini musik menjadi jembatan. Dari Bojonegoro menuju Aceh. Dari hati menuju hati.”
Panggung kesederhanaan itu berubah menjadi ruang harapan. Satu per satu, warga yang lewat berhenti. Ada yang sekadar duduk mendengarkan, ada yang ikut bernyanyi, dan ada yang mendekat untuk memasukkan amplop atau lembaran uang ke kotak donasi.
Seorang bapak paruh baya dengan baju biru KDB berdiri dan berkata pelan,
“Saya tidak kaya. Tapi saya tahu sakitnya kehilangan. Semoga uang ini bisa menjadi pengganti senyum untuk mereka di sana.”
Tak lama, seorang remaja perempuan ikut menyumbang setelah menyanyikan satu lagu. Suaranya bergetar, bukan karena takut, tetapi karena makna. Ia berkata lirih dengan mata berkaca-kaca:
"Saya jauh dari Aceh, tapi siapa yang bisa bilang hati punya jarak? Bencana tidak memilih tempat, maka bantuan pun tidak perlu menunggu panggilan.”
Di sudut lain, seorang ibu dengan gamis kuning yang tadi bernyanyi turut menyelipkan uang ke kotak donasi. Ia berkata,
“Air meluap menghanyutkan rumah mereka. Maka biarlah pagi ini, bantuan kita mengalir menghanyutkan sedikit kesedihan mereka.”
Hingga pukul 20:57 WIB, angka donasi telah mencapai Rp 8.500.000. Mencengangkan, mengingat acara masih berjalan hingga pukul 23.00 WIB. Target minimal Rp 10.000.000 bukan lagi sekadar angka, tetapi cermin keyakinan bahwa solidaritas bukan slogan—melainkan tindakan.
Beberapa pengunjung bahkan menawarkan donasi tambahan setelah lagu tertentu selesai.
Seorang anak muda yang datang bersama temannya berbisik sebelum memasukkan uang lipatan:
"Kami mungkin belum bisa membangun rumah. Tapi setidaknya malam ini, kami ikut membangun harapan.”
Musisi kembali memainkan nada. Suara dangdut memantul dari bangunan sekitar, menyebar seperti gema kepedulian.
Di bagian belakang kerumunan, seseorang sempat berkata,
“Mungkin Aceh tak mendengar suara kami. Tapi saya yakin, Tuhan mendengar niat ini.”
Malam itu, Bojonegoro tidak hanya menyanyi, Bjonegoro menyulam luka dengan kepedulian, mereka membuktikan bahwa ketika bencana datang, jarak bukan alasan untuk diam, di bawah langit yang sama, mereka mengirim pesan sederhana:
“Jika saudara kami tenggelam dalam air, maka biarkan kami tenggelam dalam kepedulian.”
Dengan nada terakhir yang bergema, satu hal menjadi jelas, solidaritas tidak membutuhkan panggung besar, cukup hati yang tidak mengecil.
Red...
