Slogan Dalane Nglenyer Hanya Untuk Kota, Desa-Desa Jadi Anak Tiri Anggaran
Bojonegoro, Polemikdaerah.online, - Di tengah bangganya Pemerintah Kabupaten Bojonegoro mempromosikan slogan “Dalane Nglenyer” sebagai simbol keberhasilan pembangunan infrastruktur, ternyata masih ada wilayah-wilayah yang merasakan sebaliknya. Jauh dari keramaian kota dan kilau trotoar yang dipoles ulang, sejumlah desa justru hidup dalam realitas pahit yang tak pernah masuk dalam materi presentasi anggaran.
Salah satu kisah yang paling mengguncang datang dari seorang kakek sepuh bernama Mbah Min, warga Tuban, yang cucunya tinggal di Dusun Tlotok, Desa Bubulan, Kecamatan Bubulan, Bojonegoro. Dengan suara dipenuhi kekecewaan, Mbah Min menggambarkan kondisi jalan pedalaman yang begitu buruk, seolah-olah tak pernah menjadi bagian dari peta perhatian pemerintah.
“Jalan di sana itu bukan jalan,” ujarnya dengan nada getir. “Itu lumpur pekat. Orang lewat bisa jatuh, motor terperosok. Saya heran, kenapa pemerintah kabupaten tidak pernah memperhatikan? Apa karena desa itu kecil, atau memang dianggap tidak ada?”
Keluhan Mbah Min menyimpan realitas yang jauh lebih besar, kenyataan bahwa pembangunan Bojonegoro tampak berpusat di kota. Sementara itu, desa-desa seperti Tlotok harus berjuang dengan jalan berlumpur, akses yang tertutup saat hujan, dan debu menyesakkan saat kemarau.
Cucunya bercerita bahwa setiap hari anak-anak sekolah harus melepas sepatu dan berjalan nyeker agar tidak tergelincir. Ibu-ibu harus menunggu berjam-jam hanya untuk bisa melintas. Warga memilih tidak ke pasar karena takut terjebak lumpur. Orang sakit pun sering kali kesulitan dibawa ke puskesmas.
“Ini bukan jalan, tapi penderitaan,” kata Mbah Min dengan suara meninggi. “Masa pemerintah tidak tahu? Masa mereka tidak mau lihat?”
Yang membuat kekecewaan itu semakin mendalam adalah fakta bahwa jalan-jalan di pusat kota Bojonegoro yang masih mulus justru terus dirombak. Aspal diganti meski belum rusak, median dipercantik, trotoar diperlebar. Anggaran mengalir deras ke area yang sudah rapi, sementara pedalaman tak mendapatkan sentuhan perbaikan bertahun-tahun lamanya.
“Saya baca di berita,” ungkap Mbah Min, menghela napas panjang. “Jalan kota yang masih bagus itu dibangun ulang. Tapi dusun yang jalannya sudah hancur-hancuran malah tidak tersentuh. Apa karena kami jauh dari kota? Ini jelas tidak adil.”
Di sinilah letak ironi paling telak dari slogan “Dalane Nglenyer”. Bagi warga Tlotok, slogan itu justru terdengar seperti sindiran pedih. Jalan mulus mungkin mudah ditemukan di pusat kota, bukan di tempat di mana lumpur telah menjadi teman sehari-hari.
“Dalane nglencer itu mungkin di kota,” ujar Mbah Min sambil tertawa getir. “Di desa cucu saya? Lewat saja butuh keberanian.”
Selama pedalaman Bojonegoro masih bergulat dengan akses yang hanya pantas disebut kubangan, selama anak-anak sekolah harus mempertaruhkan keselamatan demi pendidikan, dan selama warga pedesaan terus merasa dianaktirikan oleh anggaran, selama itu pula slogan “Dalane Nglenyer” akan terdengar hampa, jauh dari kenyataan.
Sudah saatnya Bojonegoro menoleh ke desa-desa yang selama ini hidup dalam diam. Pembangunan tidak pernah soal mempercantik pusat kota, tetapi memastikan seluruh warganya, dari kota hingga pedalaman merasa dihargai, dilihat, dan dilayani.
Red...
.jpg)