Jalan Rusak Parah, Pemkab Masih Sibuk Selfie Pembangunan Kota, Trucuk Diabaikan


Bojonegoro, Polemikdaerah.online, — Ketika kamera pemerintah daerah sibuk menangkap sudut-sudut pembangunan kota yang mengilap, ada satu kenyataan pahit yang luput mereka lirik. Jalan Mori–Guyangan di Kecamatan Trucuk, yang hari ini lebih layak disebut lintasan derita warga ketimbang fasilitas publik.

Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian desa ini justru berubah menjadi kubangan besar penuh genangan air, lubang-lubang menganga, dan jalur berbahaya yang setiap hari harus ditaklukkan warga.

Sementara pembangunan kota terus dipoles, didandani, dan dipamerkan ke publik, di Trucuk masyarakat dipaksa survive di jalan yang menyerupai arena off-road.

Ironisnya, jargon pemerintah tentang “pemerataan pembangunan” hanya terdengar manis di panggung seremonial. Di lapangan, pemerataan itu hilang entah ke mana. Desa-desa seperti Mori dan Guyangan seolah tidak masuk peta prioritas, seakan dibiarkan berjalan sendiri tanpa perhatian dari pihak yang seharusnya bertanggung jawab.

Wawan, pegiat informasi setempat, melontarkan kritik keras terhadap kondisi ini. "kalau jalan ini aset Pemkab, apa benar mereka tidak tahu kondisinya separah ini? Kok proyek kota terus digarap, tapi jalan desa yang rusak bertahun-tahun hanya jadi tontonan warga? Pemerintah sibuk pencitraan, tapi lupa bahwa rakyat butuh akses layak,” tegasnya.

Ia mempertanyakan logika penempatan proyek yang dari tahun ke tahun justru selalu berputar di lokasi-lokasi yang sama, sementara desa-desa dengan kebutuhan mendesak justru diabaikan. Padahal anggaran pusat tiap tahun mengalir tanpa hambatan.

Kalau anggaran tahunan habis untuk biaya operasional dan gaji perangkat, lalu porsi pembangunan yang untuk masyarakat itu larinya ke mana? Warga butuh bukti nyata, bukan laporan-laporan manis yang hanya indah di meja rapat,” tambahnya.

Kondisi jalan Mori–Guyangan hari ini adalah cermin retak lemahnya pengawasan, buruknya perencanaan, dan kaburnya prioritas pembangunan. Yang rusak bukan hanya aspal, tetapi juga kepercayaan masyarakat.

Sebelum hujan berikutnya menjadikan jalan ini kolam berbahaya atau kemarau mengubahnya menjadi ladang debu yang menyiksa, sudah saatnya pemerintah berhenti berselfie dan mulai bekerja.

Warga tidak butuh dokumentasi pencitraan, mereka butuh jalan yang layak untuk hidup.

Red... 

Sebelumnya

item