Saluran Lama Masih Kokoh, Mengapa Proyek Baru Justru Dipaksakan?


Bojonegoro, Polemikdaerah.online, — Sebuah pemandangan janggal di Desa Turigede, Kecamatan Kepohbaru, mulai menarik perhatian warga. Di sepanjang jalan desa, tepat di sisi SDN Turigede I, berdiri dua saluran irigasi yang seperti menceritakan kisahnya sendiri, cerita yang penuh tanda tanya, konflik kepentingan, dan dugaan kuat adanya keputusan yang tidak berpihak pada logika pembangunan.

Cerita bermula dari proyek pembangunan saluran irigasi bernilai Rp. 395.904.000, yang dikerjakan oleh CV Putri Jaya Abadi Santosa, berdomisili di Desa Mayangkawis Rt 17, Kec. Balen, Bojonegoro, dan dibiayai oleh Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Kabupaten Bojonegoro. Nominal yang tidak kecil untuk sebuah pembangunan fisik desa yang seharusnya mampu memberikan dampak signifikan bagi pertanian dan masyarakat.

Namun sejak awal peninjauan lapangan, aroma ketidakberesan itu langsung tercium, tidak ditemukan papan informasi proyek, tak ada keterangan nama kegiatan, besar anggaran, volume pekerjaan, hingga batas waktu pengerjaan. Sebuah prosedur dasar yang wajib dipublikasikan, namun entah mengapa sengaja dibuat “hilang”.

Di titik itulah, publik mulai bertanya-tanya, mengapa proyek ratusan juta harus berjalan dalam bayang-bayang?

Namun rasa penasaran itu berubah menjadi keheranan lebih besar ketika melihat kondisi fisik di lokasi.

Di sisi luar pagar sekolah, saluran irigasi lama berdiri dengan konstruksi yang masih sangat layak. Dinding penahan tanahnya kokoh, saluran airnya stabil, dan secara teknis masih mampu menjalankan fungsi irigasi tanpa kendala berarti. Tidak ada tanda kerusakan struktural yang membuatnya perlu diganti.

Tetapi anehnya, tepat di sebelah saluran lama itu, pemerintah justru mengerjakan saluran baru berbahan U-Ditch, seolah-olah bangunan lama tidak lagi mampu menjalankan tugasnya.

Jika bangunan lama masih sangat layak, untuk siapa sebenarnya saluran baru itu dibangun?di sinilah kontroversi itu semakin mengental.

Warga menduga proyek ini bukan lahir karena kebutuhan, melainkan karena “keharusan menghabiskan anggaran”. Dugaan itu diperkuat dengan tidak sinkronnya langkah antara perencanaan dan realisasi di lapangan.

Alih-alih mempertimbangkan asas manfaat, seolah instansi terkait hanya mengejar satu hal, asal proyek terlaksana, anggaran terserap, laporan selesai.

Seolah tak ada kesepahaman antara perencana dan pelaksana. Tidak ada penjelasan kenapa bangunan lama diabaikan. Dan yang lebih membuat publik menggelengkan kepala, mengapa saluran baru dipaksakan berdiri persis di samping bangunan yang masih berfungsi optimal?

Kondisi ini membuat masyarakat Turigede semakin mempertanyakan arah pembangunan desa mereka. Apalagi jika pembangunan dilakukan tanpa keterbukaan informasi, tanpa dasar urgensi, dan tanpa mendengarkan suara warga yang melihat langsung kondisi di lapangan setiap hari.

Kini, proyek irigasi itu tidak hanya menjadi bangunan fisik, tetapi juga simbol pertanyaan besar, apakah ini pembangunan untuk kebutuhan masyarakat, atau hanya sekadar memenuhi target penyerapan anggaran?

Jika saluran lama masih kokoh, mengapa yang baru harus muncul memaksakan diri?, dan apa yang sebenarnya terjadi di balik dinding beton yang berdiri berdampingan itu?

Kisah ini jelas belum berakhir, justru baru mulai, dan publik berhak tahu jawabannya.

Red... 

Sebelumnya

item