Relawan Tolak Projo Jadi Partai, Suara Akar Rumput Menegur Elit yang Mulai Lupa Jati Diri
Jakarta, Polemikdaerah.online, - Kongres ke-III Relawan Projo di Jakarta menjadi ajang ujian moral dan ideologis bagi barisan relawan pro-Jokowi. Di tengah sorotan publik dan atmosfer politik yang mulai memanas menuju 2029, muncul wacana mengguncang, dorongan agar Projo bertransformasi menjadi partai politik. Namun, suara dari bawah justru bergema lantang, Projo harus tetap ormas, bukan partai!
Ketegasan itu datang dari daerah-daerah, salah satunya dari Ketua DPC Projo Bojonegoro, Mustakim, yang menyuarakan nurani relawan sejati.
“Projo sejak awal adalah ormas. Relawan ingin Projo tetap menjadi ormas dan tidak diarahkan menjadi partai,” tegas Mustakim.
Kalimat sederhana itu sejatinya bukan sekadar pernyataan organisatoris, melainkan tamparan keras bagi mereka yang mulai kehilangan arah perjuangan. Projo lahir bukan dari ruang-ruang elite, melainkan dari keringat rakyat yang berjuang bersama Jokowi, mengusung semangat gotong royong, keikhlasan, dan keberpihakan pada rakyat kecil.
Di tengah aroma kekuasaan yang kian menyengat, roh Projo sedang diuji. Ada upaya halus tapi sistematis untuk menggiring gerakan relawan menjadi kendaraan politik baru. Sebuah manuver yang bila dibiarkan, akan mengaburkan batas antara relawan dan politisi, dan pada akhirnya mematikan jati diri Projo itu sendiri.
“Relawan Projo bukanlah barisan pragmatis yang mengejar kursi, tapi kumpulan orang yang percaya bahwa perubahan dimulai dari keikhlasan berjuang tanpa pamrih,” lanjut Mustakim.
Pernyataan itu menohok langsung ke jantung persoalan. Sebab di dalam tubuh Projo sendiri, ada sebagian pengurus yang juga kader partai politik. Jika Projo berubah menjadi partai, maka garis pembeda antara “relawan” dan “politisi” akan lenyap dan pada titik itu, roh Projo akan mati perlahan.
Lebih dari sekadar perdebatan arah organisasi, gelombang ini juga menyimpan bahaya politik yang lebih besar. Muncul narasi yang seolah ingin memisahkan relawan dari Jokowi, bahkan menggiring opini yang bisa menyulut api adu domba antara Jokowi dan Prabowo, dua tokoh bangsa yang justru tengah berupaya menjaga stabilitas dan persatuan nasional.
Dugaan kuat adanya kekuatan yang bermain dua muka, di satu sisi mengaku setia kepada Jokowi, namun di sisi lain mendorong perubahan arah organisasi demi kepentingan politik jangka pendek. Inilah wajah baru oportunisme politik yang membonceng di tubuh relawan.
Mustakim dengan tegas mengingatkan, bahwa keputusan organisasi seharusnya lahir dari musyawarah tulus para relawan, bukan dari ambisi pribadi segelintir elit.
“Relawan ingin berdemokrasi secara sehat. Jangan ada hoaks, fitnah, dan adu domba sesama anak bangsa,” ujarnya.
Sikap itu adalah bentuk perlawanan moral, penegasan bahwa relawan bukan mesin suara, tetapi benteng etika politik yang menjaga agar perjuangan rakyat tidak dijadikan komoditas kekuasaan.
Menariknya, meski menghadapi tantangan berat seperti kenaikan harga tiket pesawat hingga 50% menjelang kongres, ribuan relawan tetap hadir ke Jakarta dengan biaya sendiri. Mereka datang bukan karena diperintah, tapi karena panggilan hati. Mereka membuktikan bahwa semangat kerelawanan jauh lebih kuat dari segala hambatan logistik.
Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi kuorum kongres, tapi menjadi simbol bahwa suara mayoritas Projo masih setia pada garis perjuangan relawan pro-Jokowi.
Kongres kali ini juga menyinggung arah besar organisasi menuju Indonesia Emas 2045, pendidikan politik, pemberdayaan rakyat, hingga tantangan demografi. Namun semua itu tidak akan berarti bila fondasi moralnya digadaikan.
“Bagaimana mungkin Projo bicara tentang pemberdayaan rakyat, bila dirinya saja tidak diperhatikan oleh negara? Pemerintah pusat dan daerah harus sinergis, rakyat sebagai lumbung kursi harus disejahterakan dari hulu ke hilir,” ungkap Mustakim.
Pernyataan itu menjadi refleksi keras: jangan biarkan Projo terjebak pada politik simbol dan kekuasaan semu.
Penegasan DPC Projo Bojonegoro bahwa Projo harus tetap menjadi ormas adalah deklarasi moral, bukan sekadar keputusan administratif. Sebuah sikap yang menolak keras upaya politisasi yang semakin terang-terangan, sekaligus mengingatkan bahwa roh Projo bukan untuk ditunggangi para pecundang politik, dan tidak boleh dipisahkan dari fondasi yang dibangun Jokowi dan diteruskan bersama Prabowo.
Relawan Projo lahir dari semangat keikhlasan, bukan dari transaksi kekuasaan. Mereka adalah bagian dari sejarah perjuangan rakyat bersama Jokowi, bukan alat baru bagi mereka yang ingin menunggangi nama besar Jokowi demi ambisi politik pribadi.
Jika hari ini ada yang mendorong Projo menjadi partai, maka sesungguhnya yang mereka lawan bukan hanya keputusan kongres, tetapi jiwa kerelawanan itu sendiri.
"Projo boleh tumbuh besar, tapi jangan pernah lupa, akar yang memelihara hidupnya adalah relawan pro-Jokowi, dan mencabut akar itu, sama saja dengan membunuh pohon perjuangan dari dalam" Pungkasnya.
Red...
.jpg)