Pembangunan Menggerus Alam, Penebangan Pohon Bojonegoro Picu Lonjakan Panas dan Polusi


Bojonegoro, Polemikdaerah.online, - Ratusan pohon rindang di jantung Kota Bojonegoro ditebang atas nama pembangunan infrastruktur. Namun di balik proyek yang diklaim sebagai upaya penataan kota, warga kini menghadapi udara kering, suhu meningkat, dan ancaman krisis oksigen yang kian terasa.

Gelombang penebangan pohon di sejumlah ruas jalan utama Bojonegoro menimbulkan keresahan dan kritik tajam dari masyarakat. Langkah masif Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro menumbangkan pohon-pohon tua dengan dalih penataan kota dinilai mengabaikan keseimbangan ekologis.

Deru gergaji mesin kini menggantikan desir daun yang dulu menjadi peneduh di tengah panasnya aspal. Pohon besar yang telah berdiri puluhan tahun di sepanjang jalan protokol kini tinggal kenangan.

Sangat disayangkan, pohon yang sudah puluhan tahun memberi keteduhan dan oksigen kini dihabisi. Kami khawatir kesejukan kota ini akan hilang total. Harusnya dinas terkait mempertimbangkan keseimbangan alam, bukan hanya pembangunan fisik,” ujar seorang warga yang enggan disebut namanya.

Penelusuran di lapangan menunjukkan sebagian besar penebangan dilakukan bersamaan dengan proyek perbaikan trotoar dan drainase. Pemerintah berdalih langkah ini perlu dilakukan untuk mencegah kerusakan infrastruktur akibat akar pohon serta menghindari potensi tumbangnya pohon tua di musim hujan.

Namun alasan tersebut menuai kritik dari pemerhati lingkungan. Menurut Heri Prasetyo, aktivis Bojonegoro Green Movement, dampak ekologis dari penebangan pohon jauh lebih besar dibandingkan manfaat teknis yang diklaim pemerintah.

Setiap pohon besar mampu menyerap 20–30 kilogram karbon dioksida per tahun. Jika ratusan pohon ditebang, udara Bojonegoro kehilangan jutaan liter oksigen bersih setiap tahunnya,” ujarnya.

Heri juga menjelaskan bahwa hilangnya pepohonan menyebabkan fenomena urban heat island, yakni meningkatnya suhu udara perkotaan akibat berkurangnya area hijau dan meningkatnya radiasi panas dari aspal serta beton.

“Kondisi ini bisa menaikkan suhu rata-rata kota hingga 3–5 derajat Celsius. Efeknya nyata, siang hari terasa jauh lebih panas dan udara makin kering,” tegasnya.

Warga juga menilai program penanaman pohon pengganti belum berjalan efektif. Banyak titik bekas penebangan masih gersang tanpa reboisasi nyata. Pohon pengganti yang ditanam tampak tidak terawat dan mati kering sebelum tumbuh besar.

“Kalau menanamnya hanya formalitas tanpa perawatan, sama saja bohong. Pohon butuh waktu dan perhatian,” kata Sutrisno, warga Bojonegoro. 

Secara ilmiah, penurunan vegetasi kota terbukti mempercepat pemanasan mikro dan menurunkan kualitas udara. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, penurunan 10 persen tutupan pohon di kawasan perkotaan dapat meningkatkan suhu udara hingga 1°C dan menurunkan kadar oksigen bebas hingga 5 persen.

Jika tren penebangan di Bojonegoro terus berlanjut tanpa reboisasi seimbang, kota ini berpotensi menghadapi krisis oksigen dan peningkatan suhu ekstrem dalam waktu dekat, dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat, mulai dari meningkatnya risiko penyakit pernapasan hingga turunnya kenyamanan hidup di perkotaan.

Kini, yang tersisa hanyalah jejeran batang pohon yang tumbang, meninggalkan ruang kosong di jalan-jalan yang dulu rindang, sebagian warga juga mengeluhkan, itu bukan sekadar perubahan pemandangan, melainkan hilangnya identitas Bojonegoro sebagai kota hijau yang sejuk.

“Pembangunan boleh berjalan, tapi jangan sampai menghapus nafas kota,” ujar seorang warga lainnya. 

Bagi Bojonegoro, setiap batang pohon bukan hanya penghias jalan, melainkan penopang kehidupan, sumber oksigen, kesejukan, dan harapan akan masa depan kota yang tetap hijau di tengah panasnya pembangunan.

Red... 

Sebelumnya

item