Lubang di Jalan Panglima Polim, Ketika Drainase Rp10 Miliar Hanya Menjadi Kolam Janji yang Tak Pernah Kering


Bojonegoro, Polemikdaerah.online, — Di sepanjang ruas Jalan Panglima Polim, Kecamatan Bojonegoro, suara mesin ekskavator bersahutan dengan keluhan warga.

Di tepi jalan, tumpukan box culvert beton berdiri bisu, menatap genangan air yang tak kunjung surut. Angka miliaran rupiah yang digelontorkan hanya menjadi hiasan papan proyek, sementara di lapangan, makna kemajuan justru tenggelam bersama lumpur.

Inilah proyek pembangunan saluran drainase dan trotoar yang digadang-gadang sebagai penataan kawasan perkotaan, proyek gemuk dengan pagu Rp10.198.507.200, dikerjakan oleh CV. Aisyah 27, asal Desa Kapas, Bojonegoro.

Angka fantastis untuk sekadar mengeringkan air, namun ironisnya justru meninggalkan kubangan dan kekacauan di tengah pemukiman warga.

Dari ujung jalan, genangan tampak memantulkan langit kelabu, air menghitam, berbau lumpur, dan diam di tempat seolah menunggu kepastian, sama seperti masyarakat yang menunggu hasil nyata dari proyek ini.

Di antara tumpukan beton dan galian terbuka, ranting, plastik, dan potongan kayu terapung menjadi saksi bisu dari ketidakteraturan yang dibiarkan tumbuh subur atas nama pembangunan.

“Kalau hujan datang, airnya meluap ke jalan. Dulu katanya mau diperbaiki, tapi sekarang malah makin parah,” keluh seorang warga yang rumahnya terhimpit di antara tumpukan material dan galian berlumpur. Nada getirnya mencerminkan luka kolektif warga yang dikhianati janji pembangunan.

Padahal proyek ini membawa misi mulia, mengalirkan air agar kota tak lagi tenggelam setiap musim hujan, tapi kini, yang mengalir hanyalah kekecewaan publik.

Yang tampak bukan disiplin kerja, melainkan pembiaran. Galian dibiarkan terbuka tanpa pengaman, jalan menyempit tanpa penataan lalu lintas, air menggenang tanpa solusi sementara.

Pertanyaan besar pun menggantung di udara, dimana pengawasan Dinas PUPR Bojonegoro?, dimana suara konsultan pengawas yang seharusnya menegur setiap ketidaksesuaian teknis?, ataukah proyek ini memang sengaja dibiarkan mengalir seperti air di saluran yang tak tahu ke mana muaranya?

Di balik angka miliaran rupiah itu, publik berhak curiga, sebab proyek drainase seperti ini kerap menjadi ladang basah bagi praktik asal-asalan, beton dipasang tanpa kedalaman cukup, adukan tergesa, dan laporan pekerjaan lebih rapi dari kenyataan lapangan.

Sebuah ironi klasik, drainase dibangun untuk mengalirkan air, tapi justru mengalirkan uang rakyat ke lubang tak berdasar.

Kini setiap kali warga melintasi jalan itu, mereka tak hanya melihat genangan air, mereka melihat genangan ketidakberesan, pembangunan yang seharusnya menjadi berkah, justru berubah menjadi beban. Dan Bojonegoro kembali diajari bahwa proyek besar belum tentu berarti niat besar.

Jika pemerintah daerah masih menutup mata terhadap pemandangan ini, maka sejarah akan mencatat, bahwa di Jalan Panglima Polim, bukan air yang tersumbat, melainkan nurani pengelola anggaran, sebab sesungguhnya, drainase yang tersumbat bisa diperbaiki, tapi jika yang tersumbat adalah tanggung jawab, maka yang tergenang adalah martabat.

Red... 

Sebelumnya

item