Jembatan Mediyunan Ambrol, Akses Petani Lumpuh Total, Ketika Infrastruktur Vital Dibiarkan Rapuh
Bojonegoro, Polemikdaerah.online, - Ratusan petani di Desa Mediyunan, Kecamatan Ngasem, kini seperti terkurung di tengah sawah mereka sendiri. Satu-satunya jembatan penghubung di Dusun Mbabatan, RT 08, yang menjadi urat nadi mobilitas warga, kini tinggal puing. Hantaman deras air setelah hujan lebat pekan ini membuat struktur jembatan luluh lantak, memutus akses vital menuju lahan pertanian.
Bagi warga Mediyunan, jembatan ini bukan sekadar beton dan besi, melainkan penopang kehidupan. Setiap musim tanam dan panen, jalan ini menjadi nadi ekonomi desa. Kini, semua terhenti. Traktor tak bisa lewat, pupuk sulit diangkut, hasil panen tertahan.
“Ini jalan satu-satunya yang bisa dilewati baik saat musim panen maupun aktivitas sehari-hari. Kalau rusak begini, kami kesulitan total,” keluh Paimin, petani setempat, dengan nada getir, Jumat (1/11/2025).
Nada serupa dilontarkan Suprapto, warga RT 08, yang mengkhawatirkan keselamatan warga. “Kondisinya semakin parah dan sangat sulit dilewati. Kami takut jembatan ini ambruk total dan membahayakan siapa pun yang mencoba melintas,” ujarnya.
Ironisnya, kerusakan ini bukan kali pertama terjadi. Warga menilai, lemahnya perhatian pemerintah terhadap infrastruktur pedesaan seperti bom waktu yang tinggal menunggu korban. Banjir dan derasnya arus air bukan semata penyebab, tapi juga akibat dari kualitas pembangunan yang diragukan dan pengawasan yang setengah hati.
Kepala Desa Mediyunan, Hariyadi, mengaku telah bergerak cepat melaporkan bencana ini ke pihak kecamatan. “Kami sudah melaporkan kejadian ini dan berharap segera ada tindak lanjut dari dinas terkait, mengingat ini jalur ekonomi utama warga kami,” tegasnya.
Namun, laporan saja tidak cukup. Warga menuntut langkah nyata, bukan sekadar janji koordinasi dan survei lapangan tanpa ujung. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang serta Bina Marga (PUPRBM) Bojonegoro harus segera turun tangan dengan perbaikan darurat, bukan menunggu proposal dan anggaran berbelit.
Setiap hari yang berlalu tanpa tindakan berarti memperpanjang derita warga, memperbesar potensi kerugian ekonomi, dan memperdalam jurang ketimpangan antara janji pembangunan dan kenyataan di lapangan.
Ketika jalan ekonomi rakyat dibiarkan runtuh, maka yang ambruk bukan hanya jembatan, tapi juga kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah yang seharusnya berdiri paling depan membela kepentingan warganya.
Red...
%20(1).jpg)