Dua Hari Gelap Gulita di Gempol, PLN Absen, Sistem Rusak, Pelayanan Macet, Warga Jadi Korban!


Tuban, Polemikdaerah.online, — Badai boleh reda, tapi gelap dan amarah masih menggantung di langit Dusun Gempol, Desa Margorejo, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban. Sudah dua hari penuh sejak Rabu sore (5/11/2025), warga hidup dalam kegelapan total.

Semua bermula ketika angin kencang dan hujan deras mengguncang wilayah itu. Petir menyambar, tiang listrik roboh, dan kabel PLN menjuntai berbahaya di jalan desa. Dalam hitungan menit, seluruh dusun padam.

Namun yang paling menyakitkan bagi warga bukan sekadar padamnya listrik, melainkan padamnya tanggung jawab PLN.

Sore itu, begitu listrik mati, warga langsung melapor ke call center 123 dan juga ke layanan WhatsApp pelanggan PLN. Laporan pertama masuk pukul 15.47 WIB. Namun hingga malam menjelang, tak satu pun petugas datang. Hari berganti malam, laporan bertambah, tetapi respon tetap nihil.

Kami sudah lapor berkali-kali, tapi tidak ada tindakan sama sekali. PLN seperti tutup mata,” keluh Khairul, warga Gempol, dengan nada kecewa.

Kamis malam (6/11), satu hari berlalu tanpa secercah cahaya. Rumah-rumah di Gempol gelap gulita, anak-anak belajar dengan lilin, sementara para orang tua berjaga takut kabel yang menjuntai menimbulkan korsleting.

Di beberapa titik, tiang listrik terlihat miring, kabel PLN melintang rendah di depan rumah warga tanpa pengamanan sama sekali. Tak ada garis larangan, tak ada tanda bahaya, bahkan tak tampak satu pun petugas lapangan.

Kalau begini terus, untuk apa ada call center? Kami butuh tindakan, bukan janji,” tambah seorang warga dengan nada getir.

Menurut pengamat layanan listrik lokal, Koh Ahsin, masalah utama PLN bukan semata di lapangan, tetapi di sistem yang terlalu birokratis.

"Petugas gangguan seharusnya siaga 24 jam. Tapi yang terjadi, laporan dari pelanggan malah dilempar ke pusat, disambungkan lagi ke unit terdekat, padahal seharusnya langsung dieksekusi. Kalau kantor layanan tak bisa tanggap darurat, lebih baik ditutup saja,” ujarnya tajam.

Ia menilai sistem pengaduan PLN sudah usang, jauh dari prinsip pelayanan cepat dan tanggap. Alih-alih fokus menyalakan lampu warga, PLN justru sibuk menata administrasi laporan yang tak kunjung selesai.

Bagi warga Gempol, ini bukan sekadar pemadaman, melainkan simbol gagalnya pelayanan publik di sektor vital. Dua hari tanpa listrik berarti dua hari aktivitas lumpuh: warung tutup, bahan makanan busuk, dan anak-anak kehilangan waktu belajar.

"Badai bisa dimaafkan, tapi kelambanan PLN tidak bisa dibenarkan,” ucap seorang tokoh warga.

Sementara itu, malam ketiga hampir tiba. Dusun Gempol kembali bersiap dalam gelap, bukan karena badai, tapi karena sistem yang mati rasa.

PLN boleh beralasan sistem rusak, tapi warga menilai: yang sebenarnya padam bukan listriknya, melainkan nurani pelayanannya.

Hingga berita ini diturunkan, PLN ULP Bojonegoro yang membawahi wilayah Parengan belum memberikan pernyataan resmi. Tak ada keterangan publik, tak ada klarifikasi, dan tak ada kepastian kapan jaringan akan diperbaiki.

Red... 

Sebelumnya

item