Air Mati, Hati Warga Panas, Krisis Air Bersih Bayangi Proyek Drainase Panglima Polim
![]() |
| Foto Ilustrasi |
Bojonegoro Polemikdaerah.online, - Di tengah gencarnya promosi pembangunan infrastruktur, proyek drainase dan trotoar di Jalan Panglima Polim justru memunculkan ironi yang menyakitkan, warga kehilangan air bersih, kebutuhan paling mendasar manusia.
Sudah hampir sepekan, warga RT 29 Kelurahan Sumbang hidup dalam krisis air bersih. Air PDAM tak mengalir, bak-bak mandi kering, aktivitas rumah tangga lumpuh, yang tersisa hanyalah keluh kesah dan canda getir di grup WhatsApp warga.
“Waduh, kalau begitu keadaannya, besok-besok aja pak, kalau sudah ada air baru pulang,” tulis seorang warga yang menunda kepulangannya dari luar kota.
Warga lain pun menimpali dengan sarkasme, “Untuk sementara mandi di masjid Darussalam aja loos pak airnya,” ujar Arf, warga RT 29, sembari mengusulkan patungan untuk gali sumur darurat.
Di balik tawa itu, tersimpan frustrasi yang mendalam.
Proyek yang digarap oleh CV. Aisyah 27 itu sejatinya bertujuan memperbaiki saluran air agar kota tak tergenang. Namun kini, warga justru harus hidup tanpa air sama sekali.
Pihak PDAM Tirta Buana Bojonegoro mengakui pipa utama berdiameter 6 inci berulang kali rusak akibat aktivitas alat berat proyek.
“Hari ini dikerjakan bapak, tim kami selalu ontime, tapi setelah diperbaiki, di tempat lain kena ekskavator lagi. Semua tim trandis kota kami alokasikan untuk memperbaiki dampak pekerjaan trotoar,” ujar salah satu anggota Tim Sergap PDAM.
Direktur PDAM, Khoirul Anwar, memastikan seluruh tim teknis telah dikerahkan, termasuk menyalurkan air tangki ke wilayah terdampak. Namun upaya itu tak ubahnya seperti memadamkan api dengan sendok air, percuma jika pihak pelaksana proyek terus bekerja tanpa koordinasi.
Di atas kertas, proyek ini bertujuan mengurai genangan air kota, namun di lapangan, yang muncul justru genangan persoalan baru, minim perencanaan, lemahnya pengawasan, dan ketidakhadiran pemerintah sebagai pengendali.
Pipa air bersih, kabel jaringan, hingga akses warga nyaris tak pernah masuk hitungan teknis.
Ketika pipa pecah, yang disalahkan operator alat berat. Padahal akar masalahnya bukan sekadar kelalaian teknis, tapi perencanaan proyek yang amburadul dan sistem pengawasan yang nyaris nihil.
Setiap kali diperbaiki, kerusakan muncul lagi di titik lain. Proyek publik bernilai miliaran rupiah ini berjalan tanpa disiplin profesional.
Ironisnya, setiap terjadi kerusakan, yang bergerak cepat justru PDAM, bukan kontraktor yang menimbulkan masalah, pemerintah daerah pun seperti absen di tengah penderitaan warganya.
Kini, warga hanya bisa menunggu tanpa kepastian, sementara pengerjaan proyek terus berjalan seolah tak ada masalah.
Krisis air bersih di RT 29 bukan sekadar gangguan sementara, tetapi potret buram tata kelola pembangunan Bojonegoro, di mana rakyat selalu menjadi korban dari proyek yang kehilangan arah.
Proyek drainase Panglima Polim kini menjelma simbol kegagalan manajemen pembangunan daerah, pekerjaan yang seharusnya menata kota justru menelanjangi kelemahan sistem: perencanaan yang asal, pengawasan yang longgar, dan abainya kepedulian terhadap warga terdampak.
Selama pemerintah tak berani menertibkan pelaksana proyek dan menata ulang sistem koordinasi lintas dinas, kisah serupa akan terus berulang, proyek dikerjakan, rakyat dikorbankan, dan air sumber kehidupan terus menjadi korban pembangunan yang kehilangan nurani.
Red...
.png)