Mafia Solar Bojonegoro Kian Ganas, Ketua Komunitas ELF Keluhkan Hukum Mandul, Negara Kalah Di Jalanan


Bojonegoro, Polemikdaerah.online, - Di tengah panasnya aspal dan kepulan asap kendaraan yang mengular di depan SPBU, potret buram ketidakberdayaan negara kembali terpampang nyata. Dugaan praktik penimbunan BBM bersubsidi jenis solar kembali menyeruak, dan masyarakat, terutama para sopir angkutan, menjadi korban paling nyata dari permainan kotor yang tampaknya tak kunjung tersentuh hukum.

Dua lokasi penimbunan di Kecamatan Dander dan Kalitidu memang sempat “dibekukan”, namun apakah itu akhir dari cerita? Jelas tidak. Seperti jamur di musim hujan, aktivitas serupa kini diduga tumbuh di tempat lain, lebih tersembunyi, lebih licik, dan mungkin lebih terlindungi.

Nama-nama lama seperti inisial YT dan KK kembali disebut-sebut. Mereka bukan pemain baru, tapi tampak seolah memiliki “imunitas” hukum, bebas bergerak meski rekam jejaknya telah jadi konsumsi publik.

Sementara itu, sopir-sopir seperti Didik Supriyanto, Ketua DPC Elf Mania Cinta Indonesia (EMCI) Bojonegoro, hanya bisa gigit jari melihat antrean solar yang kian tak masuk akal. Mesin kendaraan mereka berhenti bukan karena rusak, tapi karena negara kalah melawan mafia.

"Kami sangat menyayangkan pihak-pihak terkait yang seolah tutup mata,” tegas Didik.

Ucapannya bukan sekadar keluhan, tapi tamparan keras bagi aparat yang seharusnya menegakkan keadilan, bukan sekadar menonton dari balik meja.

Ironisnya, fenomena antrean panjang ini seolah dianggap hal biasa. Padahal di baliknya, terselip permainan kotor yang menyalurkan BBM bersubsidi untuk kepentingan bisnis gelap, sementara masyarakat kecil harus berebut sisa tetesan solar di SPBU.

Jika aparat benar-benar serius, mengapa kasus lama tak kunjung tuntas? Mengapa pelaku bisa berpindah lokasi, mengganti modus, dan tetap beroperasi? Di sinilah titik kritisnya, penegakan hukum di Bojonegoro tampak ompong di hadapan uang dan koneksi.

BBM bersubsidi sejatinya untuk rakyat kecil, tapi dalam praktiknya, rakyatlah yang justru dikorbankan. Mafia solar hidup nyaman di balik jeruji hukum yang tak pernah ditutup. Sementara sopir angkutan, petani, dan nelayan harus memutar otak demi sepertiga tangki solar agar tetap bisa bekerja.

Kini publik menuntut ketegasan nyata, bukan retorika. Aparat penegak hukum harus membuktikan bahwa negara ini masih punya wibawa. Jika tidak, maka bukan hanya solar yang langka, kepercayaan rakyat pun akan menguap, seperti uap bensin yang terbakar oleh keserakahan.

"Bojonegoro tidak butuh janji. Bojonegoro butuh tindakan tegas, penangkapan nyata, dan keberanian untuk menindak siapapun, tak peduli seberapa tinggi jabatannya atau seberapa tebal dompetnya. Karena selama mafia solar dibiarkan bernapas bebas, maka sesungguhnya yang kehabisan tenaga bukan kendaraan rakyat, melainkan moral bangsa itu sendiri" Pungkas Didik. 

Red... 

Sebelumnya

item