Program Domba Bojonegoro Dihentikan, Diganti Ayam: Rp8,1 Miliar Menguap Tanpa Jejak
BOJONEGORO, Polemikdaerah.online, – Program Domba Kesejahteraan yang sejak akhir 2023 digembar-gemborkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro sebagai inovasi pengentasan kemiskinan resmi dihentikan. Pemkab kini menggantinya dengan program bantuan ayam petelur senilai Rp7 miliar. Namun, di balik pergantian itu, jejak anggaran Rp8,172 miliar yang sudah digelontorkan untuk program domba masih menjadi misteri.
Sejak diluncurkan, program domba disebut akan menjadi “ikon pemberdayaan rakyat miskin”. Pada 2023, tahap awal menjangkau 160 penerima manfaat, dengan target lebih dari 1.000 keluarga miskin pada 2024. Namun memasuki 2025, program mendadak dihentikan tanpa laporan rinci hasil maupun capaian.
Dalam pemberitaan sebelumnya, pada link portal https://transisinews.com/program-domba-berganti-ayam-petelur-reinkarnasi-kegagalan-atau-kesejahteraan-bojonegoro/, sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan, Elfia Nuraini, menyebut penghentian domba hanya bersifat teknis. “Domba diganti ayam, mekanismenya tetap sama,” ujarnya.
Namun pernyataan itu berbeda dengan Kabid Peternakan, Fajar Dwi N, yang menegaskan bahwa program berhenti karena tekanan regulasi pusat. Yang terpublikasi melalui portal link media https://terasbojonegoro.com/2025/03/12/disnakan-bojonegoro-hentikan-program-domba-kesejahteraan-tahun-2025/, ada Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi belanja serta Surat Edaran Mendagri 900/833/SJ. Pemangkasan anggaran membuat program domba tidak bisa dilanjutkan,” katanya.
Dua alasan berbeda dari pejabat di instansi yang sama menimbulkan tanda tanya besar: apakah program dihentikan karena alasan teknis atau karena gagal sejak awal?
Penelusuran di laman Sirup LKPP per 6 September 2025 justru menguak kejanggalan. Masih tercatat belanja dengan kode RUP 0498052 bertajuk Barang Paket Promosi Gizi Protein Asal Hewani dan Domba Kesejahteraan.
Rincian belanja yang muncul aneh :
- Susu UHT berbagai varian
- Tas souvenir spunbond ukuran 20x22x22 cm
- Istilah teknis “minimal poel ganti gigi dua pasang” – merujuk domba usia ±1,5 tahun
Alih-alih mencerminkan program ternak untuk pengentasan kemiskinan, daftar tersebut lebih menyerupai paket konsumsi acara atau bingkisan seminar.
Data pencairan anggaran memperlihatkan pola yang timpang. Dari total Rp8,172 miliar, dana dicairkan dalam lima tahap:
- Rp100 juta
- Rp166 juta
- Rp186 juta
- Rp118 juta
- Rp7,6 miliar (termin terakhir)
Hampir 93 persen anggaran cair di ujung tahun. Pola serapan seperti ini lazim dipertanyakan, sebab kerap menunjukkan minimnya realisasi fisik di lapangan, namun belanja dipaksakan menjelang tutup buku.
Di sisi lain, Sirup LKPP juga masih menampilkan rencana belanja prioritas ayam melalui program Gayatri, dengan nilai mencapai puluhan hingga hampir ratusan miliar rupiah. Artinya, meski program domba disebut batal, anggarannya tetap tercatat, sementara program ayam baru juga digelontorkan. Kondisi ini membuka ruang dugaan adanya tumpang tindih perencanaan bahkan potensi penggelembungan anggaran.
Seorang akademisi lokal menilai program ini bermasalah sejak tahap perencanaan.
“Kalau Rp8,1 miliar benar-benar terserap, mestinya ada bukti nyata: ribuan domba, daftar penerima, dan usaha yang berjalan. Faktanya, program dihentikan lalu diganti. Itu sinyal kuat adanya masalah struktural, bahkan berpotensi penyalahgunaan anggaran,” tegasnya.
Hingga kini Pemkab Bojonegoro belum mempublikasikan laporan rinci: berapa ekor domba yang dibeli, siapa penerima manfaat, serta bagaimana keberlanjutan usahanya. Sementara itu, program ayam petelur kembali digulirkan dengan dana segar miliaran rupiah.
Pergantian program tanpa evaluasi terbuka menimbulkan kesan Pemkab hanya mengganti kemasan, tanpa menyelesaikan masalah mendasar: lemahnya pendampingan, minimnya akses pasar, serta kaburnya akuntabilitas anggaran.
"Tanpa audit independen dan transparansi, Rp8,1 miliar itu berpotensi tinggal angka di atas kertas, sementara warga miskin yang dijanjikan sejahtera tetap menunggu janji kosong pemerintah daerahnya" Pungkasnya.
Red...
