Driver Ojol Bojonegoro Gelar Doa Bersama dan Aksi Damai

Mazmur


Bojonegoro, - Malam itu, Sabtu 30 Agustus 2025, langit Bojonegoro seperti memeluk bumi dengan selimut kelamnya. Dari sudut-sudut kota, suara knalpot dan deru mesin motor perlahan mengalir menuju satu muara: depan gedung DPRD Bojonegoro. Ratusan driver ojek online berdatangan, tak membawa panji-panji kemarahan, melainkan sebatang lilin di dalam hati. Mereka hadir bukan untuk meneriakkan amarah, bukan untuk menyalakan bara perpecahan, melainkan untuk merenda doa, menyalakan damai, dan mengenang kepergian seorang saudara seprofesi yang gugur dalam hiruk demonstrasi Jakarta, dua malam sebelumnya.

Jam dinding kota berbisik pukul delapan malam ketika barisan motor mulai terparkir rapi, bagai barisan pasukan sunyi yang siap mengabdi pada satu ikrar: persatuan. Helm-helm ditenteng di tangan, jaket hijau dan hitam menyatu di bawah lampu jalan, namun malam itu warna hanyalah selubung—yang tersisa hanyalah warna hati yang sama, warna persaudaraan.

Ketika waktu merayap menuju pukul setengah sembilan, doa pun terbit. Tahlil dilantunkan dengan lirih, menembus angin malam yang berhembus pelan. Serentak, lilin-lilin kecil dinyalakan, dan cahaya temaramnya menari di wajah-wajah yang letih oleh perjalanan hidup, namun kokoh dalam keteguhan. Seakan tiap nyala api adalah sepotong jiwa yang dikorbankan, sepotong doa yang dilayarkan. Malam mendadak hening, seolah seluruh alam turut menunduk, menyimak bisikan doa yang terbang ke langit.

Lalu tibalah pukul sembilan. Dari kerumunan, bangkit satu suara, lalu suara lain menyusul, dan seterusnya. Orasi-orasi itu bukan kilatan marah, melainkan getar tekad. Mereka bicara tentang luka yang tak boleh merenggangkan simpul persaudaraan. Tentang solidaritas yang tak boleh lekang meski diterpa badai. Tentang profesi ojol yang bukan sekadar menjemput rezeki di jalan, melainkan juga menjemput makna hidup—bahwa roda motor mereka adalah roda nasib bersama, yang hanya bisa bergerak jika dijalankan dalam kebersamaan. Kata-kata itu mengalir bagai sungai: tenang, namun dalam; sederhana, namun menghunjam.

Menjelang pukul sepuluh malam, acara ditutup. Lilin-lilin yang tadinya berkelip satu per satu padam, tetapi api yang sesungguhnya—api persatuan—justru menyala semakin terang di dada mereka. Malam itu, Bojonegoro menjadi saksi bahwa para driver ojol mampu berdiri dengan kepala tegak, tanpa harus berteriak. Mereka dewasa dalam sikap, arif dalam pilihan, dan bijaksana dalam menyalurkan rasa.

Aksi damai itu akhirnya menjelma lebih dari sekadar pertemuan. Ia menjadi sebuah puisi kolektif, ditulis bukan dengan tinta di atas kertas, melainkan dengan doa di atas udara malam. Ia menjadi peringatan bahwa persaudaraan tidak pernah mengenal batas, dan solidaritas selalu menemukan jalannya, bahkan ketika cahaya dunia meredup.

Dan ketika seluruh lilin padam, malam sesungguhnya justru semakin terang—terang oleh cahaya yang tak kasat mata, cahaya dari hati yang telah dipertautkan oleh doa.

Red   

Sebelumnya

item