Prestasi di Atas Kertas, Transparansi Masih Gelap di Bojonegoro
Bojonegoro, Polemikdaerah.online, – Di tengah sorotan publik terhadap transparansi informasi pemerintah, Kabupaten Bojonegoro kembali menorehkan prestasi manis di atas panggung, meraih Penghargaan Website Terbaik Ketiga dalam ajang Jatim Public Relations Award (JPRA) 2025 di Malang Creative Center (8/11/2025).
Penghargaan itu diserahkan langsung di hadapan Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dan Utusan Khusus Presiden, Raffi Ahmad, seolah menjadi simbol pengakuan nasional atas kinerja komunikasi publik daerah.
Namun, di balik gemerlap panggung penghargaan dan tepuk tangan seremoni, publik Bojonegoro justru menyimpan tanya besar, prestasi untuk siapa? transparansi untuk siapa?
Sebab di lapangan, wajah keterbukaan informasi publik masih jauh dari kata terbuka.
Banyak program pemerintah berjalan tanpa kejelasan data, rincian pelaku kegiatan, bahkan penggunaan anggaran yang bersumber dari pajak masyarakat, gelap di portal, kabur di lapangan.
Website-website dinas yang mestinya menjadi jendela transparansi justru tampak seperti etalase kosong, tampilan rapi, konten miskin makna.
Informasi program tak diperbarui, data anggaran sulit diakses, dan publik seolah dipaksa percaya begitu saja tanpa ruang bertanya.
Lebih ironis lagi, rekan-rekan pewarta yang menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat, kerap diperlakukan bukan sebagai mitra, melainkan tamu yang tak diundang.
Pertanyaan sederhana soal program atau anggaran sering dijawab dengan kalimat klise, “Bapak sedang rapat..., Apakah sudah janjian dulu?”
Seolah transparansi publik harus antre menunggu izin pejabat.
Padahal jabatan publik bukan panggung eksklusif, melainkan amanah untuk melayani, bukan hanya mereka yang “kenal” atau “berjanji temu”, tapi seluruh masyarakat Bojonegoro yang menaruh harapan pada keterbukaan.
Maka, penghargaan “Website Terbaik” yang diterima Bojonegoro bisa jadi hanya cermin yang berdebu, memantulkan citra bagus di permukaan, tapi menyembunyikan buramnya praktik transparansi di dalamnya.
Karena di era digital yang katanya serba terbuka ini, penghargaan bukan ukuran kebenaran, yang lebih penting bukan seberapa indah laman website, tapi seberapa jujur isi di baliknya.
Red...
