Saat Jalan Desa Dibiarkan Rusak, Warga Mekukur Bicara Lewat Pohon Pisang


Bojonegoro, Polemikdaerah.online, – Ketika suara warga tak lagi digubris, jalan rusak pun dijadikan medium protes. Aksi warga menanam pohon pisang di jalan poros desa Dusun Mekukur, Desa Genjor, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, menjadi simbol kemarahan sekaligus kekecewaan mendalam atas sikap abai Pemerintah Desa (Pemdes) dan bungkamnya para wakil rakyat.

Jalan poros desa yang menjadi satu-satunya akses utama warga dibiarkan rusak parah. Lubang menganga, lumpur menguasai badan jalan, dan genangan air kerap memicu kecelakaan, terutama saat musim hujan. Kondisi ini sudah berlangsung lama, namun tak kunjung mendapat penanganan serius.

Warga mengaku berulang kali menyampaikan keluhan. Namun respons yang diterima nyaris selalu sama, janji tanpa kepastian. Rencana diperbincangkan, rapat digelar, tetapi kerja nyata tak pernah menyentuh tanah desa. Jalan tetap hancur, sementara aktivitas ekonomi warga terus tersendat.

Beberapa pemuda Dusun Mekukur yang enggan disebutkan namanya menuturkan, kesabaran warga telah habis. “Setiap tahun dijanjikan perbaikan, tapi tidak ada realisasi. Jalan rusak ini membahayakan keselamatan, menghambat ekonomi, dan membuat warga semakin menderita,” ujarnya.

Aksi tanam pohon pisang pun dipilih sebagai bentuk protes damai namun menyentak. Ketika pemerintah desa gagal hadir, warga berbicara dengan cara paling jujur dan kasat mata. Ini bukan tindakan anarkis, melainkan sindiran keras atas pembiaran yang terus berlangsung.

Ironisnya, di saat warga harus bergelut dengan lumpur dan lubang jalan, para wakil rakyat yang kerap menyebut diri sebagai “kumpulan orang-orang hebat” justru lebih sering terlihat di ruang-ruang seremonial dan forum diskusi. Kehadiran mereka di desa hanya terasa saat kampanye, bukan ketika rakyat membutuhkan pembelaan nyata.

Warga Dusun Mekukur hari ini merasa termarjinalkan, tersisih, dan teranaktirikan. Mereka tidak menuntut kemewahan atau proyek besar. Yang mereka minta hanyalah hak dasar, jalan desa yang layak dan aman dilalui.

Pertanyaan publik pun mengemuka, ke mana komitmen Pemdes? Di mana fungsi pengawasan wakil rakyat? Jika jalan poros desa saja dibiarkan rusak bertahun-tahun, maka patut dipertanyakan keberpihakan dan tanggung jawab mereka yang diberi amanah.

Pesan warga jelas dan tak perlu ditafsirkan berlebihan. Pemdes diminta berhenti merangkai janji dan mulai bekerja. Wakil rakyat diminta berhenti menjadi penonton dan paduan suara kekuasaan.

Karena bagi warga Mekukur, pohon pisang yang tumbuh di tengah jalan adalah bukti bahwa ketika negara absen, rakyat terpaksa mencari cara sendiri untuk didengar.

Red... 


Sebelumnya

item