Ujian Perangkat Desa Kemamang, Transparansi yang Diceritakan, Bukan Diperlihatkan

Opini Edukasi.

Suasana pengamanan ketat oleh aparat di lokasi ujian tes perangkat desa

Bojonegoro, Polemikdaerah.online, - Bojonegoro kembali menyuguhkan panggung ujian perangkat desa, sebuah ritual administratif yang konon dipenuhi jargon objektivitas dan akuntabilitas. Namun, menjelang pelaksanaan tes Kasun Karanglo di Desa Kemamang, publik justru disuguhi tontonan lain, pembatasan ruang liputan media yang terasa lebih mirip manuver pengamanan daripada upaya profesional penyelenggara.

Johan dan Riko, dua peserta yang akan memperebutkan posisi Kasun Karanglo, memang menjadi tokoh utama dalam ujian ini. Tetapi mereka bukan satu-satunya yang sedang diuji. Panitia pun kini berada di bawah sorotan, sebab keputusan menempatkan jurnalis jauh dari lokasi ujian menimbulkan aroma kejanggalan yang sulit ditutup-tutupi.

Wartawan tidak diperkenankan berada di area SMP Negeri Kenep, tempat ujian sebenarnya berlangsung. Alih-alih mendapatkan akses pengawasan, media justru “diangkut” ke Balai Desa Kemamang, sebuah lokasi yang berjarak cukup jauh, seolah dibuat khusus untuk memastikan mereka tidak melihat apa-apa, tidak mendengar apa-apa, dan tidak mencatat apa-apa.

Alasan panitia terdengar manis di permukaan: “perwakilan saja yang ke lokasi”. Tetapi publik tahu, dalam banyak kasus seperti ini, manisnya alasan sering kali menyembunyikan pahitnya praktik.

Jika memang tidak ada yang perlu disembunyikan, mengapa jurnalis tidak boleh hadir di lokasi utama?, apa yang sebenarnya ingin dilindungi dari kamera, pena, dan mata publik?

Fenomena “pemisahan” antara ujian dan media ini menciptakan tanda tanya besar. Transparansi tidak bekerja secara jarak jauh. Tidak ada istilah “terbuka” jika yang boleh melihat hanya pihak yang sama-sama berkepentingan di dalam ruang itu.

Lebih ironis lagi, baik Kepala Desa Kemamang maupun Camat Balen bungkam ketika diminta penjelasan. Sunyi. Seolah ada dinding tebal yang sengaja ditegakkan untuk menahan setiap pertanyaan. Padahal, dalam proses seleksi publik, diam sering lebih memekakkan daripada pernyataan kontroversial.

Johan dan Riko masuk ruang ujian, membawa harapan dan kecemasan. Tetapi publik membawa pertanyaan yang lebih besar:

Apakah ujian ini berjalan dengan integritas, atau hanya seremonial yang dikemas rapi?

Setiap seleksi perangkat desa selalu menghadirkan cerita berulang, ruang ujian tertutup, panitia sibuk memberi klarifikasi panjang, dan warga kembali bertanya-tanya mengapa “transparansi” harus selalu dibungkus prosedur yang rumit.

Kini publik tidak hanya menunggu hasil ujian, mereka menunggu kejujuran prosesnya, sebab yang dinilai bukan hanya dua peserta, tetapi keberanian penyelenggara untuk menunjukkan bahwa seleksi bukan sekadar formalitas yang digerakkan oleh tangan-tangan tak terlihat.

Red... 

Sebelumnya

item