Gunungan Salak Raksasa Siap Diarak, Festival Salak Wedi 2025 Diprediksi Banjir Massa!


Bojonegoro, — Besok, Sabtu 13 Desember 2025, Desa Wedi dipastikan menjadi titik pusat keramaian publik. Festival Salak Wedi 2025 bukan sekadar agenda tahunan, tetapi hajatan besar yang sudah memantik rasa penasaran sejak persiapan awalnya. Aura euforianya terasa, namun di balik itu tersimpan dinamika yang memperlihatkan bagaimana Wedi sedang menegaskan diri, desa kecil yang berani tampil sebagai poros kreativitas baru.

Sejak pagi, denyut kesibukan warga tampak tak biasa. Lapangan desa berubah menjadi arena kerja besar. Gunungan salak raksasa, ikon sakral festival berdiri menjulang setelah dirakit dari ribuan buah yang disumbangkan langsung oleh warga. Bukan sekadar simbol panen melimpah, gunungan ini adalah lambang harga diri masyarakat Wedi. Banyak warga bahkan memilih memberikan salak paling sempurna yang mereka miliki, demi memastikan ikon desa itu tampil tanpa cela.

Kirab akan mengalir dari Balai Desa Wedi menuju Musholla Abu Bakar Al-Chamid, rute yang disebut menggabungkan aspek ruang, akses, dan kedekatan sosial masyarakat. Di sisi lain, beberapa warga mulai mempertanyakan kesiapan jalur tersebut untuk menampung ribuan orang yang diprediksi memadati jalan besok. Pemdes mengklaim sudah siap dengan pengamanan, meski detailnya masih disimpan rapat dan belum dibuka ke publik.

Namun sorotan utama publik justru tertuju pada langkah berani Kepala Desa Wedi, Heru Purnomo. Besok, ia akan secara resmi meluncurkan tagline baru desa:

Dari salak kita bergerak. Dari Wedi kita berinovasi.

Sekilas tampak sederhana, tetapi di lapangan tagline ini menjadi bahan bisik-bisik hangat. Banyak yang menilai slogan tersebut sebagai manuver strategis Pemdes untuk menggali potensi SDM masyarakat yang mayoritas hidup dari salak, demi menciptakan Wedi sebagai desa unggulan berbasis inovasi dan kreativitas komunitas. Bagi sebagian warga, ini adalah sinyal bahwa Wedi tidak hanya merayakan buahnya, tetapi sedang memetakan masa depan.

Rangkaian acara yang disiapkan pun menunjukkan keseriusan itu:

  • Kirab Gunungan Salak
  • Grebeg Salak Gratis
  • Makan Salak Gratis
  • Bazar UMKM Desa
  • Pentas Seni Warga

Lapak-lapak UMKM sudah berdiri sejak dua hari terakhir. Aktivitas jual-beli sudah terasa sebelum festival dimulai. Meski demikian, penelusuran singkat di lapangan menemukan obrolan kecil soal penempatan lapak dan pemerataan titik strategis. Tidak hingga menjadi polemik, namun pedagang berharap ke depan ada skema yang lebih transparan agar semua pelaku usaha mendapat kesempatan yang sama.

Dari seluruh rangkaian persiapan, satu hal semakin jelas, Festival Salak Wedi 2025 bukan sekadar tontonan. Ia adalah panggung pencitraan besar. Bukan pencitraan kosong, tetapi upaya desa untuk menunjukkan bahwa Wedi hidup, bergerak, dan berani tampil sebagai desa yang kreatif dan modern.

Besok, ketika gunungan salak raksasa diarak, bukan hanya buah yang bergerak. Citra, optimisme, dan arah baru sebuah desa ikut diusung menuju perhatian publik. Ribuan mata akan tertuju ke Wedi, desa kecil yang siap membuktikan bahwa ia tak lagi sekadar penghasil salak, tetapi pusat ide dan inovasi baru di Bojonegoro.

Red... 


Sebelumnya

item