Teknologi Hebat, Integritas Remuk, Drama Ujian Perangkat Desa Kemamang dan Aroma Permainan Canggih
Opini Edukasi.
Bojonegoro, Polemikdaerah.online, - Ujian perangkat Desa Kemamang sudah selesai, tapi yang tersisa bukan rasa lega, melainkan bau anyir konspirasi yang begitu pekat sampai-sampai teknologi CAT yang dipuja itu tak mampu menutupinya. Tradisi lama “pesan kursi jabatan” yang dulu dilakukan diam-diam kini hanya berganti selimut, bukan kain batik, tapi aplikasi komputer.
CAT (Computer Asisten Test) selama ini seolah dianggap kitab suci, sakral, steril, dan anti-intervensi. Padahal publik Bojonegoro tahu, dari dulu sampai sekarang, alat secanggih apa pun tetap tunduk pada jari manusia yang memegang kendali. Dan sering kali, jari itulah akar masalahnya.
Di SMP Negeri Kenep, dua kandidat sedang tenggelam dalam layar komputer. Mereka begitu percaya pada “keadilan digital”, seolah algoritma adalah malaikat penjaga integritas. Mereka tidak sadar bahwa komputer hanya benda mati, sedangkan orang-orang yang duduk di belakang server adalah manusia yang hidup, bernafas, dan kadang-kadang lapar kekuasaan.
Setelah ujian selesai, panitia berdalih hasil tes akan diumumkan, tapi saat pewarta meminta foto hasil akhir? Tiba-tiba semuanya berubah kaku. Mendadak ada tembok tebal bernama “tidak diperkenankan”. Transparansi langsung menguap seperti air mendidih terkena angin fitrah manipulasi.
“Transparansi” di sini ternyata hanya slogan yang dipajang saat konferensi pers, bukan dipraktikkan.
Para pakar internet dan malware malah menertawakan mitos CAT yang katanya suci itu. Aplikasi apa pun, mau online, offline, semi-online, atau sambil nyantol di server kampus mitra, tetap dikendalikan operator. Dan operator itu bukan robot. Mereka manusia, bisa ditelepon, bisa dimintai tolong, bisa diarahkan, bahkan bisa “dipagari”.
Jika aplikasi benar-benar dikelola universitas mitra seperti UB, itu bukan berarti bebas intervensi. Itu hanya berarti ada operator tambahan yang memegang kendali. Dan operator itu bukan batu karang. Mereka punya jari, punya pikiran, dan yang paling berbahaya, mereka punya akses.
Pertanyaan paling menggelitik, apakah para operator itu benar-benar netral seperti yang diiklankan?, apakah mereka tidak mungkin menerima “harapan” dari pejabat daerah?, apakah mereka kebal titipan? Kebal godaan? Kebal tekanan?
Atau malah sebaliknya, mereka justru jadi “pengurus pintu belakang digital” yang menentukan siapa yang lulus dan siapa yang harus tumbang?
Jangan lupa, pemerintah daerah melalui dinas punya wewenang mengawasi proses. Dan ketika wewenang bertemu kepentingan, CAT hanya jadi bungkus modern untuk ritual lama, kongkalikong versi high-tech.
Pada akhirnya, publik Bojonegoro kembali disuguhi tontonan klasik, teknologi dijadikan kosmetik untuk menutup luka busuk birokrasi, CAT jadi topeng digital, dan keadilan hanya jadi file yang bisa di-edit sebelum di-save.
Red...
%20(1).jpg)