Snyal Hijau Yang Tak Pernah Menyala, Investasi Bojonegoro Terjebak Aturan, Funder Tersandera Praktik Bawah Meja

Opini Edukasi.


Bojonegoro, Polemikdaerah.online, — Sekilas, Bojonegoro tampak seperti daerah impian. Angka-angka dalam dokumen perencanaan tersusun rapi, potensi migas menjulang, hamparan lahan pertanian terbuka luas, dan peluang agroindustri disebut nyaris tak berbatas. Dalam setiap forum resmi, daerah ini selalu hadir dengan wajah optimistis: ramah investasi, terbuka, dan siap tumbuh.

Namun ada satu hal yang jarang terdengar dari balik mimbar: suara langkah investor yang perlahan menjauh, bukan karena Bojonegoro miskin peluang. Justru sebaliknya. Masalahnya terletak pada sesuatu yang tak tertulis dalam brosur investasi, yakni kepastian.

Di sinilah kegelisahan bermula, para investor datang membawa rencana matang. Modal siap, teknologi tersedia, lapangan kerja dijanjikan. Mereka hanya meminta satu hal sederhana, yakni kejelasan. Bukan fasilitas mewah, bukan keistimewaan. Hanya kepastian bahwa negara dalam wujud pemerintah daerah benar-benar hadir sebagai fasilitator, bukan sekadar penonton.

Sayangnya, bagi banyak investor, Bojonegoro terasa seperti etalase toko yang berkilau, tetapi ketika pintu dibuka, rak-raknya kosong. Kawasan industri terintegrasi masih sebatas narasi. Lahan siap bangun tak kunjung nyata. Akibatnya, investor dipaksa menempuh jalan berliku, berburu lahan, menghadapi spekulasi harga, bernegosiasi dengan banyak kepentingan, sambil terus menghitung risiko konflik sosial.

Kami diminta menunggu. Terus menunggu,” ujar seorang pelaku industri, sebelum akhirnya memindahkan investasinya ke daerah lain. Kalimat singkat, namun cukup untuk menjelaskan banyak hal.

Di dunia usaha, risiko adalah bagian dari permainan. Tetapi birokrasi yang tak bisa diprediksi adalah risiko paling mahal. Perizinan berjalan lamban, tafsir regulasi berubah-ubah, dan informasi seolah berputar dari satu meja ke meja lain tanpa pernah benar-benar sampai pada keputusan.

Ironisnya, di tengah jargon digitalisasi, investor masih dipaksa berkeliling dari ruangan ke ruangan. Bagi birokrasi, itu rutinitas. Bagi investor, itu alarm bahaya. Sebab dalam bisnis, waktu bukan sekadar jam di dinding, ia adalah biaya, kepercayaan, dan keputusan hidup-mati investasi.

Kekayaan migas yang seharusnya menjadi mesin akselerasi pembangunan justru berubah menjadi paradoks. Ketergantungan berlebih pada sektor energi menciptakan ketimpangan. Sektor non-migas dielu-elukan dalam pidato, tetapi dibiarkan berjalan pincang. Biaya hidup meningkat, standar upah melonjak, sementara infrastruktur industri penunjangnya tertinggal jauh. Industri padat karya pun gugur sebelum sempat bertarung.

Di sisi lain, investor juga membaca denyut sosial. Di daerah kaya sumber daya, sensitivitas masyarakat adalah keniscayaan. Namun tanpa kehadiran aktif pemerintah sebagai jembatan komunikasi, investor merasa berjalan di medan penuh ranjau. Setiap gesekan kecil berpotensi membesar, setiap isu bisa berubah menjadi krisis.

Di titik inilah pertanyaan paling krusial muncul dan tak pernah benar-benar dijawab, ketika konflik datang, apakah pemerintah akan berdiri di depan, atau memilih menepi?

Keraguan ini bukan asumsi liar. Ia lahir dari pengalaman konkret. Tak sedikit investor yang telah menuntaskan hampir seluruh persiapan, bangunan berdiri, mesin terpasang, tenaga kerja disiapkan. Tinggal menunggu legalisasi akhir. Namun yang terjadi justru sebaliknya, birokrasi saling melempar tanggung jawab, kebijakan saling bertabrakan, dan kepastian hukum menguap di tengah tafsir regulasi.

Pada titik itu pula, muncul kesan getir, seolah regulasi bukan alat kepastian, melainkan ruang abu-abu yang menguntungkan segelintir pihak.

Padahal sesungguhnya, investor tidak menuntut karpet emas. Mereka hanya menunggu keberanian politik membangun kawasan industri yang nyata, menyederhanakan birokrasi, memastikan satu pintu pelayanan benar-benar bekerja, dan menyeimbangkan dominasi migas dengan sektor ekonomi lain yang lebih berkelanjutan.

Selama keberanian itu terus ditunda, keraguan investor akan tetap menjadi bayang-bayang. Dan selama itu pula, Bojonegoro akan terus berada di persimpangan sejarah, dengan potensi besar di satu tangan, dan kehilangan peluang di tangan lainnya. 

Red... 

Sebelumnya

item