Uang di Balik Massa Pro Sudewo, Politik Kepentingan di Balik Sidang Hak Angket
Pati, Polemikdaerah.online, Di halaman gedung DPRD Kabupaten Pati, hiruk-pikuk massa pro dan kontra Bupati H. Sudewo seolah menjadi panggung demokrasi rakyat. Namun di balik lantang teriakan dukungan dan bentangan spanduk pembelaan, muncul aroma ganjil yang mulai tercium: benarkah uang menjadi penggerak setia di balik massa aksi?
Menjelang akhir sidang Hak Angket Pemakzulan Bupati, berbagai manuver politik terasa semakin kasar. Dukungan di lapangan tampak militan, namun di bawah permukaan, banyak pihak menyebutnya sebagai panggung semu, sebuah pertunjukan yang diatur dengan biaya besar.
Sudewo sendiri, menurut sejumlah sumber, menyadari siapa yang benar-benar setia dan siapa yang datang karena uang.
"Sudewo tahu betul siapa yang setia dan siapa yang datang karena bayaran. Massa yang hadir di DPRD saat sidang itu rata-rata dibayar Rp150 ribu sampai Rp200 ribu per orang,” ujar seorang sumber yang kerap mengikuti kegiatan kelompok pro-Sudewo, yang meminta identitasnya disamarkan demi keamanan.
Menurut sumber tersebut, pola mobilisasi seperti ini bukan hal baru. Sejak awal isu pemakzulan mencuat, sejumlah pihak yang memiliki kepentingan jabatan disebut rela menggelontorkan dana demi menjaga citra dukungan di mata publik.
"Yang menggerakkan massa itu bukan relawan murni, tapi orang-orang yang masih ingin mempertahankan posisi. Mereka takut kehilangan pengaruh kalau Sudewo jatuh,” lanjutnya.
Dugaan itu kian menguat ketika beberapa nama di lingkaran tim sukses Bupati dikaitkan dengan pengaturan massa. Sumber lain yang dikonfirmasi tim redaksi menyebut bahwa beberapa figur kini tengah menjadi perhatian serius Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket DPRD Pati.
Namun, aroma politik uang tak hanya berhembus dari kubu pro-Bupati. Isu serupa juga menyentuh kelompok kontra. Desas-desus lain bahkan menyebut adanya campur tangan partai politik tertentu yang memanfaatkan momentum ini untuk memperlemah posisi kepala daerah.
Sayangnya, hingga kini belum ada bukti visual maupun keterangan resmi yang mampu memperkuat dugaan tersebut. Semua masih bergerak di wilayah abu-abu politik, di mana kepentingan dan strategi saling berkelindan.
Di tengah situasi itu, Bupati Sudewo disebut tengah berada dalam posisi sulit. Menurut sumber dekat lingkaran birokrasi, sang Bupati kini berada dalam kondisi “galau politik”, dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan loyalitas lama atau menata ulang barisan dukungan yang mulai retak.
"Beliau tahu ada kepentingan yang bermain. Tapi dalam kondisi seperti ini, langkah salah sedikit bisa dimaknai sebagai pengkhianatan,” ujar seorang pejabat yang enggan disebut namanya.
Pemandangan di lapangan seolah menegaskan paradoks politik lokal, rakyat digerakkan bukan karena idealisme, melainkan karena isi saku, politik menjelma menjadi arena transaksi, dan demokrasi berubah menjadi pasar dukungan.
Namun, di tengah pusaran rumor dan kepentingan itu, satu pertanyaan masih menggantung di benak publik Kabupaten Pati, siapa sebenarnya yang memperjuangkan kebenaran dan siapa yang hanya memperjuangkan isi amplop?
Tim/Red...
%20(1).jpg)